Pembebasan Irian Jaya (sekarang Papua) adalah salah satu babak terpenting dan paling kompleks dalam sejarah Indonesia pasca-kemerdekaan. Proses ini, yang berlangsung dari pertengahan 1950-an hingga awal 1960-an, melibatkan perjuangan politik, diplomasi, dan operasi militer untuk mengakhiri kekuasaan Belanda di wilayah tersebut.
Latar Belakang: Sengketa Pasca-Kemerdekaan
Setelah Konferensi Meja Bundar (KMB) pada tahun 1949, Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesia Serikat (RIS). Namun, ada satu masalah yang belum terselesaikan: status Irian Barat (Irian Jaya).
Belanda Bertahan: Belanda bersikeras mempertahankan wilayah itu, mengklaim bahwa penduduknya secara etnis berbeda dari Indonesia dan harus diberikan hak untuk menentukan nasibnya sendiri di bawah pengawasan Belanda.
Indonesia Menuntut: Indonesia, yang berlandaskan pada semangat proklamasi kemerdekaan dan klaim wilayah bekas Hindia Belanda, menuntut agar Irian Barat menjadi bagian dari wilayahnya.
Sengketa ini menjadi duri dalam hubungan Indonesia-Belanda selama lebih dari satu dekade.
Jalur Diplomasi: Upaya yang Buntu
Indonesia awalnya memilih jalur diplomasi untuk menyelesaikan sengketa. Melalui berbagai forum internasional, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Indonesia berulang kali mengajukan resolusi untuk mengintegrasikan Irian Barat. Namun, upaya ini selalu menemui kegagalan karena Belanda mendapatkan dukungan dari negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat, yang khawatir akan pengaruh komunis di Indonesia.
Pentingnya Konferensi Asia-Afrika (1955): Meskipun gagal di PBB, Indonesia mendapatkan dukungan moral yang besar dari negara-negara non-blok pada Konferensi Asia-Afrika di Bandung. Hal ini meningkatkan posisi Indonesia di panggung global.
Konfrontasi: Komando Trikora dan Operasi Militer
Setelah diplomasi menemui jalan buntu, Presiden Soekarno memutuskan untuk menempuh jalan konfrontasi.
Komando Trikora (19 Desember 1961): Soekarno mencanangkan Tri Komando Rakyat (Trikora), yang berisi tiga perintah penting:
Gagalkan pembentukan Negara Boneka Papua buatan Belanda.
Kibarkan Sang Merah Putih di Irian Barat.
Bersiaplah untuk mobilisasi umum untuk mempertahankan kemerdekaan.
Operasi Militer: Komando ini segera diikuti dengan operasi militer besar-besaran, yang diberi nama Operasi Trikora. Pasukan gabungan TNI dikerahkan untuk menyusup ke wilayah Irian Barat melalui udara dan laut. Pimpinan operasi ini diserahkan kepada Mayor Jenderal Soeharto.
Peran Amerika Serikat: Meskipun awalnya mendukung Belanda, Amerika Serikat mulai khawatir bahwa konflik militer akan mendorong Indonesia semakin dekat dengan Uni Soviet. Di bawah tekanan AS, Belanda akhirnya setuju untuk berunding.
Resolusi Damai dan Pepera
Perundingan damai, yang dimediasi oleh Amerika Serikat, akhirnya menghasilkan Perjanjian New York.
Perjanjian New York (15 Agustus 1962): Perjanjian ini menetapkan bahwa Belanda akan menyerahkan Irian Barat kepada United Nations Temporary Executive Authority (UNTEA), sebuah badan sementara PBB. Setelah itu, UNTEA akan menyerahkan wilayah tersebut kepada Indonesia pada 1 Mei 1963.
Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera): Sesuai perjanjian, Indonesia harus menyelenggarakan Pepera (Penentuan Pendapat Rakyat) pada tahun 1969 untuk mengonfirmasi keinginan rakyat Irian Barat.
Hasil Pepera: Hasil Pepera menunjukkan bahwa mayoritas rakyat Irian Barat memilih untuk bergabung dengan Republik Indonesia. Meskipun banyak kontroversi dan kritik mengenai proses pelaksanaannya, hasil ini secara resmi mengintegrasikan Irian Jaya ke dalam wilayah Indonesia.
Pembebasan Irian Jaya menunjukkan perpaduan antara diplomasi yang alot dan kekuatan militer yang terorganisir, yang akhirnya berhasil mengakhiri sisa-sisa penjajahan Belanda di Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar