Pendahuluan
Setiap negara merdeka memiliki simbol kedaulatan yang tak terbantahkan: bendera, lagu kebangsaan, dan mata uang. Namun, di balik lembaran uang yang kita gunakan sehari-hari, ada institusi penjaga yang fundamental—Bank Sentral. Di Indonesia, institusi itu bernama Bank Indonesia (BI). Kisah BI bukan sekadar tentang suku bunga dan kebijakan moneter; ini adalah narasi tentang perjuangan panjang sebuah bangsa untuk meraih kemandirian ekonomi, melepaskan diri dari belenggu kolonial, dan menjaga stabilitas rupiah. Mari kita telusuri bagaimana jantung ekonomi bangsa ini berdetak, dari masa Hindia Belanda hingga menjadi bank sentral yang independen.
Cikal Bakal: Jejak De Javasche Bank (DJB)
Sejarah Bank Indonesia secara formal dimulai jauh sebelum Indonesia merdeka, yaitu pada masa penjajahan Belanda.
1. De Javasche Bank (DJB): Kontrol Kolonial (1828–1953)
Cikal bakal BI adalah De Javasche Bank (DJB), yang didirikan pada tahun 1828. Didirikan oleh Raja Willem I, DJB diberikan hak istimewa (oktroi) untuk mencetak dan mengedarkan mata uang di wilayah Hindia Belanda.
DJB pada masa itu adalah perpanjangan tangan dari kepentingan ekonomi kolonial. Fokus utamanya adalah memfasilitasi perdagangan komoditas yang menguntungkan Belanda, seperti kopi, gula, dan rempah-rempah. DJB menjalankan fungsi bank sentral, namun tujuannya sangat jelas: melayani kepentingan pemerintahan kolonial.
Fakta Cepat: De Javasche Bank
Tahun Didirikan: 1828
Pendiri: Raja Willem I dari Belanda
Tujuan Utama: Mendukung dan membiayai perdagangan komoditas Belanda di Hindia Belanda.
Mata Uang: Menerbitkan Gulden Hindia Belanda.
Gambar di atas memperlihatkan arsitektur megah gedung bersejarah De Javasche Bank di Kota Tua Jakarta, yang kini menjadi Museum Bank Indonesia, sebuah saksi bisu dari era kolonial.
Era Kemerdekaan: Perjuangan Mengambil Alih
Setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, perjuangan untuk mengambil alih DJB dari tangan Belanda menjadi simbol krusial dari kedaulatan ekonomi.
2. Kedaulatan di Tengah Konflik (1945–1953)
Meskipun Indonesia telah merdeka, DJB tetap dikuasai oleh Belanda. Pemerintah Indonesia menghadapi tantangan besar karena harus memerangi sisa-sisa kekuatan Belanda sambil membangun sistem moneter sendiri. Pemerintah Republik Indonesia kemudian mendirikan bank-bank sendiri dan pada Oktober 1946 menerbitkan mata uang resmi pertama: Oeang Republik Indonesia (ORI).
Namun, kendali penuh atas bank sentral baru tercapai setelah perjuangan yang panjang melalui jalur diplomasi dan nasionalisasi.
3. Lahirnya Bank Indonesia (1953)
Titik balik datang pada tahun 1953. Pemerintah Indonesia akhirnya berhasil menasionalisasi De Javasche Bank. Melalui Undang-Undang No. 11 Tahun 1953, DJB resmi bertransformasi menjadi Bank Indonesia (BI).
Perubahan nama ini menandai babak baru: untuk pertama kalinya, bank sentral memiliki tujuan murni untuk melayani dan menjaga kepentingan ekonomi nasional Indonesia. BI mengambil alih tugas-tugas vital, seperti mencetak uang, mengatur perbankan, dan menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah.
Reformasi dan Kemerdekaan Institusi
Perjalanan BI tidak selalu mulus. Selama era Orde Lama dan Orde Baru, BI seringkali berada di bawah pengaruh kuat pemerintah. Krisis moneter Asia 1997-1998 menjadi titik baliknya.
4. Reformasi 1999: Mandiri dan Fokus
Krisis 1997-1998 mengajarkan pelajaran pahit: bank sentral harus independen dari intervensi politik agar dapat bekerja efektif.
Pada tahun 1999, Undang-Undang No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia disahkan. Undang-undang ini memberikan BI independensi penuh sebagai lembaga negara yang otonom. BI tidak lagi berada di bawah kendali pemerintah dan memiliki kewenangan untuk merumuskan dan melaksanakan kebijakan moneter secara mandiri.
Fokus utama BI ditetapkan: mencapai dan memelihara kestabilan nilai Rupiah. Ini mencakup stabilitas harga (inflasi) dan stabilitas nilai tukar terhadap mata uang asing.
Fakta Cepat: Bank Indonesia Modern
Tahun Pendirian Resmi: 1953
Tujuan Utama: Mencapai dan memelihara kestabilan nilai Rupiah.
Prinsip Utama: Independensi institusional sejak tahun 1999.
Peran Modern: Melakukan kebijakan moneter, mengatur sistem pembayaran, dan menjaga stabilitas sistem keuangan (bersama OJK).
Kesimpulan: Penjaga Stabilitas di Tengah Badai
Sejarah Bank Indonesia adalah kisah tentang perjuangan kedaulatan yang terus berlanjut. Dari sebuah alat kontrol kolonial, BI bertransformasi menjadi institusi independen yang menjadi benteng pertahanan utama ekonomi Indonesia. Dalam menghadapi badai krisis global dan tantangan inflasi, peran BI sebagai penjaga stabilitas Rupiah dan sistem keuangan adalah kunci untuk memastikan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan sejahtera bagi rakyat Indonesia.
Rekomendasi Lanjutan:
Museum: Kunjungi Museum Bank Indonesia (MuBI) di Jakarta untuk melihat secara langsung sejarah moneter Indonesia.
Buku: Sejarah Bank Indonesia (Publikasi resmi BI).
Topik Lanjutan: Pelajari tentang peran BI dalam menjaga Stabilitas Sistem Keuangan (SSK) dan kebijakan makroprudensial.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar