Rabu, 06 Agustus 2025

Sejarah "Masa Bersiap" : Keteraturan dan Kekerasan di Awal Kemerdekaan

 


Masa Bersiap adalah periode yang sangat krusial dan kompleks dalam sejarah Indonesia, berlangsung kira-kira dari Oktober 1945 hingga awal tahun 1946. Masa ini merujuk pada situasi kacau balau di mana rakyat Indonesia bersiap menghadapi ancaman kembalinya Belanda (melalui NICA/Netherlands Indies Civil Administration) dan sekutu, yang datang untuk merebut kembali kekuasaan.

Meskipun namanya mencerminkan semangat juang, masa ini juga diwarnai oleh tindakan kekerasan ekstrem dan konflik internal yang tidak terhindarkan.


Kondisi Sosial dan Politik Pascakemerdekaan

Setelah proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, kondisi Indonesia jauh dari stabil.

  • Vakum Kekuasaan: Jepang menyerah, tetapi Sekutu belum sepenuhnya datang. Hal ini menciptakan kekosongan kekuasaan yang segera diisi oleh berbagai kelompok pergerakan, baik yang terorganisir maupun yang spontan.

  • Kedatangan Sekutu dan Belanda: Sekutu datang ke Indonesia dengan tujuan melucuti tentara Jepang dan membebaskan tawanan perang. Namun, mereka membonceng NICA, yang bertujuan memulihkan kekuasaan kolonial Belanda.

  • Senjata dan Organisasi: Para pemuda pejuang yang dulunya tergabung dalam PETA (Pembela Tanah Air) atau Heiho segera mengambil alih persenjataan dari tentara Jepang. Mereka membentuk berbagai laskar perjuangan dan milisi, seperti Badan Keamanan Rakyat (BKR), yang kemudian menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR).


Kekerasan dalam "Masa Bersiap"

Masa Bersiap tidak hanya diisi dengan perlawanan terhadap Belanda. Ini juga merupakan periode yang penuh kekerasan di dalam negeri sendiri.

  1. Sasaran Kekerasan:

    • Orang-orang Eropa (Belanda) dan Indo-Belanda: Mereka sering kali dianggap sebagai "musuh" yang harus dibasmi karena merepresentasikan kekuasaan kolonial. Ribuan dari mereka ditangkap, disiksa, dan dibunuh oleh laskar-laskar perjuangan.

    • Orang Tionghoa: Beberapa laskar menganggap etnis Tionghoa sebagai pendukung Belanda, sehingga mereka menjadi target kekerasan, penjarahan, dan penculikan, terutama di beberapa wilayah seperti Tangerang dan Jawa Timur.

    • Kelompok Elit dan Feodal: Para priyayi, raja lokal, dan orang kaya yang dianggap bekerja sama dengan Belanda atau menjadi simbol penindasan masa lalu juga menjadi target. Hal ini terjadi karena semangat revolusi saat itu juga diwarnai oleh semangat anti-feodal dan anti-kapitalis.

  2. Motivasi Kekerasan:

    • Balas Dendam: Banyak pemuda yang trauma dan dendam atas penderitaan selama masa penjajahan Jepang dan Belanda.

    • Radikalisasi: Ada laskar-laskar yang sangat radikal dan bertindak di luar komando pemerintah, melihat "musuh" di mana-mana.

    • Kurangnya Kontrol: Pemerintah RI yang baru terbentuk belum memiliki kendali penuh atas semua laskar dan milisi yang ada. Kekuatan bersenjata saat itu belum satu komando.


Akhir "Masa Bersiap" dan Dampaknya

Masa Bersiap secara bertahap berakhir seiring dengan semakin kuatnya konsolidasi militer Indonesia.

  • Konsolidasi TKR/TNI: Dengan pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan akhirnya menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI), pemerintah mulai mengkonsolidasikan semua laskar pejuang di bawah satu komando. Hal ini mengurangi aksi-aksi kekerasan yang tidak terkoordinasi.

  • Pertempuran Besar: Kekerasan internal mereda karena fokus perjuangan bergeser menjadi pertempuran terbuka melawan pasukan Sekutu dan NICA, seperti Pertempuran Surabaya dan Pertempuran Medan Area.

  • Dampak Jangka Panjang: Peristiwa "Masa Bersiap" meninggalkan trauma yang mendalam bagi banyak pihak. Sejarahnya menjadi pengingat bahwa proses kemerdekaan tidak selalu berjalan mulus dan penuh dengan kompleksitas. Kekerasan pada masa itu menjadi salah satu "sisi gelap" dari revolusi kemerdekaan Indonesia.

Secara keseluruhan, Masa Bersiap adalah periode yang menggambarkan dualitas: semangat perjuangan yang membara untuk mempertahankan kemerdekaan, sekaligus kekerasan yang tak terkontrol akibat kekosongan kekuasaan, dendam, dan belum matangnya tatanan sosial politik.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar