Pendahuluan
Di Indonesia hari ini, nasi adalah identitas. Rasanya hampir tak terbayangkan jika ada meja makan keluarga yang tanpa nasi. Namun, kenyataannya adalah bahwa dominasi mutlak beras sebagai makanan pokok di Nusantara merupakan fenomena yang relatif baru dalam skala sejarah. Keberagaman pangan yang dulunya diwarnai oleh sagu, ubi, jagung, dan singkong, mulai surut di bawah gelombang kebijakan Orde Baru di bawah Presiden Soeharto. Melalui program ambisius dan terpusat, Soeharto tidak hanya meningkatkan produksi beras secara drastis, tetapi juga secara fundamental mengubah preferensi makan dan struktur sosial-ekonomi masyarakat Indonesia. Ini adalah kisah tentang bagaimana kebijakan negara, teknologi pertanian, dan pembangunan identitas nasional bersatu untuk menempatkan sebutir beras di puncak piramida pangan.
I. Konteks Awal: Krisis Pangan dan Janji Stabilitas
Ketika Orde Baru dimulai pada akhir 1960-an, Indonesia menghadapi krisis pangan yang akut. Produksi beras tidak dapat mengimbangi pertumbuhan penduduk, yang menyebabkan ketidakstabilan harga dan kerawanan sosial—situasi yang sangat dihindari oleh rezim yang menjanjikan stabilitas.
A. Stabilitas Harga Melalui Beras
Sebab-Akibat: Bagi Soeharto, stabilitas politik sangat bergantung pada stabilitas ekonomi, dan stabilitas ekonomi disamakan dengan harga beras yang terjangkau. Ketidakmampuan pemerintah memenuhi kebutuhan pangan dapat memicu kerusuhan (seperti yang pernah terjadi sebelumnya). Ini menyebabkan beras menjadi komoditas politik nomor satu.
Strategi: Pemerintah memutuskan untuk memprioritaskan peningkatan produksi beras dan menjaga harga di tingkat yang dapat diterima baik oleh petani (melalui pembelian) maupun konsumen (melalui subsidi).
B. Program Bimbingan Massal (BIMAS)
Inti dari revolusi pangan Soeharto adalah program BIMAS dan adopsi Revolusi Hijau.
Pelaksanaan: BIMAS adalah program yang terstruktur dan terpusat yang dirancang untuk meningkatkan hasil panen secara dramatis. Program ini melibatkan:
Teknologi: Pengenalan varietas padi unggul yang menghasilkan panen lebih banyak (misalnya, IR8 dan IR5), yang dikembangkan di lembaga penelitian internasional.
Input Modern: Subsidi besar-besaran untuk pupuk, pestisida, dan irigasi.
Penyuluhan: Aparat desa dan penyuluh pertanian diwajibkan untuk mendidik petani agar menggunakan paket teknologi modern ini.
Dampak: Hasil panen beras Indonesia melonjak drastis. Pada tahun 1984, Indonesia berhasil mencapai status swasembada beras yang sangat dibanggakan, sebuah pencapaian yang menandai puncak keberhasilan teknokrat Orde Baru.
II. Alat Kontrol dan Standardisasi Budaya
Kebijakan pangan Soeharto tidak hanya teknis; ia juga memiliki dimensi budaya dan politik yang dalam.
A. Politik Pangan: Mempopulerkan Nasi
Pemerintah Orde Baru secara aktif mempromosikan citra bahwa nasi adalah makanan yang lebih unggul, modern, dan merupakan lambang kemajuan nasional.
Kampanye: Kampanye pemerintah secara eksplisit mendorong konsumsi beras dan secara implisit memandang makanan pokok non-beras (seperti sagu dan ubi) sebagai makanan "kuno" atau "kelas dua".
Dampak Budaya: Kampanye ini berdampak pada perubahan preferensi diet masyarakat, terutama di daerah yang secara tradisional mengonsumsi jagung atau sagu (seperti di Indonesia Timur atau sebagian Jawa). Beras menjadi simbol status sosial dan ekonomi.
Gambar di atas memperlihatkan sawah padi yang subur di Indonesia pada masa panen, simbol keberhasilan program pertanian masif yang dicanangkan di era Soeharto.
Fakta Cepat: Swasembada 1984
Tahun Pencapaian: 1984
Status: Indonesia mencapai swasembada beras, diakui oleh FAO (Organisasi Pangan dan Pertanian PBB).
Peran Kunci: Bukti keberhasilan program Revolusi Hijau yang didukung penuh oleh negara.
B. Peran BULOG
BULOG (Badan Urusan Logistik) memegang peran sentral dalam mempertahankan dominasi beras.
Fungsi: BULOG berfungsi sebagai penyangga (buffer stock) dan pengendali harga. Mereka membeli beras dari petani pada harga dasar dan menjualnya ke pasar atau mendistribusikannya melalui operasi pasar ketika harga melonjak.
Dampak: Kontrol terpusat ini memastikan pasokan beras selalu tersedia dan harganya stabil, memperkuat posisi beras sebagai makanan pokok yang dapat diandalkan oleh masyarakat, sebuah psychological safety net bagi rakyat.
III. Refleksi dan Tantangan Warisan Monokultur
Meskipun mencapai swasembada, fokus tunggal pada beras di era Soeharto meninggalkan warisan yang kompleks dan tantangan yang bertahan hingga hari ini.
A. Kelemahan Monokultur
Sebab-Akibat: Ketergantungan yang berlebihan pada satu komoditas (monokultur) dan varietas padi yang sama membuat pertanian Indonesia sangat rentan. Ketika terjadi serangan hama (seperti wereng) atau krisis iklim, kerugiannya menjadi masif.
Dampak Lingkungan: Penggunaan pestisida dan pupuk kimia secara besar-besaran berdampak negatif pada kesehatan tanah dan ekosistem air.
B. Ancaman Kedaulatan Pangan
Setelah jatuhnya Orde Baru, Indonesia kembali mengalami defisit beras dan menjadi importir. Warisan Soeharto adalah bahwa beras kini telah menjadi makanan pokok yang tidak dapat digantikan, meninggalkan tantangan besar bagi kedaulatan pangan saat ini: bagaimana cara kembali ke diversifikasi pangan tanpa mengganggu stabilitas sosial yang diciptakan oleh beras.
Kesimpulan: Nasi, Stabilitas, dan Identitas
Kisah bagaimana Soeharto membuat beras menjadi makanan pokok adalah perpaduan yang rumit antara kebijakan yang berhasil dan konsekuensi yang tidak disengaja. Melalui Revolusi Hijau dan propaganda yang efektif, beras berhasil menstabilkan negara dan menyatukan identitas makan orang Indonesia. Namun, ia juga menumbangkan keragaman pangan tradisional, meninggalkan kita dengan sebuah pertanyaan abadi: demi keamanan pangan di masa depan, bisakah kita kembali menghargai kekayaan sagu, ubi, dan jagung, tanpa menghilangkan tempat beras di meja makan?
Rekomendasi Lanjutan:
Buku: Indonesia Beyond Suharto (Donald Emmerson) yang membahas transisi ekonomi dan sosial pasca-Orde Baru.
Tonton: Dokumenter tentang sejarah Revolusi Hijau di Asia.
Topik Lanjutan: Pelajari tentang program diversifikasi pangan nasional saat ini dan tantangan iklim terhadap produksi beras.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar