Rabu, 01 Oktober 2025

Bukan Seratus Tahun Penuh: Menggali Sejarah Perang Seratus Tahun yang Mengubah Peta Eropa

Pendahuluan

Bayangkan sebuah konflik yang begitu berlarut-larut hingga mencakup lima generasi manusia. Itulah Perang Seratus Tahun (Hundred Years' War). Nama ini menyesatkan, karena perang ini sesungguhnya adalah serangkaian konflik terputus-putus yang berlangsung selama 116 tahun, dari tahun 1337 hingga 1453. Perang ini bukan hanya tentang klaim takhta; ini adalah pertarungan identitas, pertarungan feodalisme versus nasionalisme yang baru lahir, dan ajang munculnya teknologi militer baru. Kontes epik antara Kerajaan Inggris dan Kerajaan Prancis ini membentuk batas-batas politik dan identitas nasional kedua negara hingga hari ini. Mari kita selami saga feodal yang berdarah ini.


I. Akar Konflik: Masalah Takhta dan Tanah 

Perang Seratus Tahun adalah produk dari intrik kekuasaan abad pertengahan yang sangat kompleks, yang dipicu oleh dua masalah utama.

A. Sengketa Dinasti (Klaim Takhta Prancis)

Penyebab langsung perang adalah krisis suksesi di Prancis.

  • Kepunahan Dinasti Capet: Pada tahun 1328, Raja Charles IV dari Prancis meninggal tanpa pewaris laki-laki. Garis langsung Dinasti Capet punah.

  • Klaim Inggris: Raja Inggris saat itu, Edward III, adalah keponakan Charles IV (melalui ibunya). Edward III merasa dialah pewaris takhta Prancis yang sah, berdasarkan garis keturunan, meskipun tradisi Prancis melarang suksesi melalui garis perempuan (Salic Law). Para bangsawan Prancis menolak klaim ini dan menobatkan sepupu Charles, Philip VI (memulai Dinasti Valois). Edward III merespons dengan menyatakan dirinya Raja Prancis pada tahun 1337, memicu perang.

B. Sengketa Feodal (Wilayah Aquitaine)

Masalah klaim takhta diperparah oleh kepemilikan tanah. Raja Inggris adalah vasal (bawahan) Raja Prancis untuk wilayah luas di Prancis, terutama Aquitaine (Gascony). Raja Prancis berupaya menegaskan kedaulatannya di wilayah ini, sebuah tindakan yang dianggap Edward III sebagai penghinaan dan pelanggaran kedaulatan.


II. Tiga Fase Pertempuran: Dari Dominasi Inggris ke Kemenangan Prancis 

Perang ini dibagi menjadi beberapa periode konflik utama, yang masing-masing menunjukkan perubahan taktis.

A. Fase Edwardian (1337–1360): Kekuatan Busur Panjang

Inggris, meskipun kalah jumlah, memenangkan serangkaian pertempuran besar berkat keunggulan teknologi.

  • Busur Panjang Inggris (English Longbow): Senjata sederhana ini memiliki jangkauan yang lebih jauh dan tingkat tembakan yang lebih cepat daripada busur silang (crossbow) Prancis.

  • Kemenangan Kunci:

    • Crécy (1346): Busur panjang Inggris menghancurkan kavaleri berat Prancis yang terlapis baja.

    • Poitiers (1356): Raja Prancis, John II, ditangkap. Peristiwa ini menunjukkan keunggulan tentara infanteri profesional Inggris atas tradisi kavaleri feodal Prancis.

Fakta Cepat: Busur Panjang Inggris

  • Asal: Wales (digunakan secara efektif sejak awal abad ke-14).

  • Kekuatan: Pemanah yang terampil dapat menembakkan 10–12 anak panah per menit, menciptakan badai panah yang sangat mematikan.

  • Dampak: Memaksa perubahan taktik militer di seluruh Eropa, mengurangi peran kavaleri berlapis baja.

B. Fase Lancastrian (1415–1429): Puncak Kekuasaan Inggris

Setelah jeda panjang akibat Wabah Hitam dan konflik internal, Raja Inggris Henry V memulai kembali perang.

  • Agincourt (1415): Dianggap sebagai salah satu kemenangan militer terbesar Inggris. Pasukan Henry V yang kecil mengalahkan tentara Prancis yang jauh lebih besar di medan lumpur, mematikan kavaleri Prancis.

  • Traktat Troyes (1420): Henry V memaksa Raja Charles VI dari Prancis untuk mengakui Henry sebagai pewaris takhta Prancis dan menikahi putrinya, Catherine. Untuk sesaat, Inggris seolah-olah berhasil mencapai tujuannya untuk menyatukan kedua mahkota.

Gambar di atas adalah penggambaran dramatis dari Pertempuran Agincourt, yang menunjukkan bagaimana Busur Panjang Inggris yang mematikan mengalahkan kavaleri bangsawan Prancis.


III. Kebangkitan Nasional Prancis dan Akhir Konflik 

Meskipun Inggris menguasai hampir seluruh Prancis Utara, keajaiban muncul.

A. Joan of Arc (Jeanne d'Arc): Api Nasionalisme

Pada tahun 1429, seorang gadis petani bernama Jeanne d'Arc (Joan of Arc) muncul, mengklaim bahwa ia dikirim oleh Tuhan untuk mengusir Inggris dan menobatkan Dauphin (Pangeran Mahkota) Charles.

  • Peran Kunci: Joan berhasil meyakinkan Charles dan memimpin pasukan Prancis untuk membebaskan Orléans dari pengepungan Inggris. Kemenangan ini mengubah moral Prancis dari kekalahan menjadi perlawanan. Joan menjadi simbol nasionalisme Prancis yang baru lahir.

  • Dampak: Meskipun ditangkap oleh Burgundia (sekutu Inggris) dan dibakar pada tahun 1431, semangat yang ia nyalakan tidak pernah padam.

B. Kemenangan Prancis dan Dampak

Prancis, yang didorong oleh semangat nasionalisme dan reformasi militer (seperti pembentukan tentara profesional daripada bergantung pada tuan tanah feodal), secara sistematis merebut kembali wilayah.

  • Castillon (1453): Pertempuran ini, yang secara kebetulan juga merupakan pertempuran besar terakhir dalam perang, dimenangkan oleh Prancis. Lebih penting lagi, pertempuran ini ditandai dengan penggunaan artileri secara efektif oleh Prancis, yang menunjukkan peran senjata bubuk mesiu di masa depan.

  • Hasil Akhir: Pada tahun 1453, Inggris telah diusir dari semua wilayah Prancis, kecuali pelabuhan Calais (yang kemudian jatuh pada tahun 1558).

Kesimpulan: Warisan Abadi

Perang Seratus Tahun adalah akhir dari era feodal lama dan awal dari era nasionalisme modern. Di Inggris, kekalahan ini memicu Perang Mawar dan memaksa Inggris untuk berfokus pada pembangunan kekuatan maritimnya. Di Prancis, kemenangan ini menyatukan negara di bawah Raja yang kuat, memusatkan kekuasaan, dan menciptakan identitas nasional Prancis yang kokoh, yang dipersonifikasikan oleh Joan of Arc. Perang ini tidak hanya mengubah peta, tetapi juga mengubah sifat perang selamanya.

Rekomendasi Lanjutan:

  • Buku: A Distant Mirror: The Calamitous 14th Century (Barbara W. Tuchman) yang membahas konteks abad ke-14 yang kacau.

  • Film: Adaptasi film apa pun tentang kisah Joan of Arc.

  • Kunjungi: Kastil dan medan perang di Prancis seperti Crécy dan Agincourt untuk merasakan skala pertarungan abad pertengahan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar