Selasa, 11 November 2025

Bantal Roti di Meja Makan: Menggali Sejarah Mantou, Pahlawan Pangan Tanpa Isi dari Tiongkok Utara

Pendahuluan

Di dunia kuliner Tiongkok, Mantou mungkin bukan bintang utama seperti dim sum atau bebek peking, tetapi ia adalah pilar sejati di meja makan. Roti kukus tanpa isi ini, dengan teksturnya yang lembut dan mengenyangkan, adalah makanan pokok sehari-hari di Tiongkok Utara. Mantou bukan sekadar karbohidrat; ia adalah simbol ketahanan, adaptasi, dan warisan sejarah yang mendalam. Kisah Mantou membawa kita kembali ke masa perang dan mitologi kuno, jauh sebelum baozi (roti kukus dengan isi) menjadi terkenal. Mari kita telusuri jejak historis Mantou, bagaimana ia lahir dari kecerdikan militer dan berevolusi menjadi "roti" paling kuno dan paling dicintai di Asia Timur.


I. Akar Mitologis: Strategi Militer dan Ritual Pengorbanan 

Asal-usul Mantou yang paling terkenal diselimuti kabut legenda yang melibatkan salah satu ahli strategi militer terbesar dalam sejarah Tiongkok.

A. Zhuge Liang dan Pengorbanan Palsu

Kisah paling populer menghubungkan penciptaan Mantou dengan Zhuge Liang (181–234 M), seorang ahli strategi dan Perdana Menteri Shu Han selama era Tiga Kerajaan.

  • Konteks: Setelah kampanye militer yang sukses di selatan Tiongkok (sekarang provinsi Yunnan), Zhuge Liang harus menyeberangi sungai yang berarus deras untuk kembali ke utara. Legenda setempat mengatakan bahwa dewa sungai hanya akan mengizinkan penyeberangan jika ada pengorbanan 50 kepala manusia.

  • Metode Taktis: Zhuge Liang yang humanis, menolak pertumpahan darah. Sebagai gantinya, ia memerintahkan koki-nya untuk membuat adonan dari tepung gandum, dibentuk menyerupai kepala manusia, diisi dengan daging (atau bahan lain), dan dikukus. Dia menamakan persembahan ini Mantou (man: manusia, tou: kepala).

  • Dampak: Persembahan ini diterima, dan pasukannya berhasil menyeberang. Legenda ini menandai Mantou sebagai makanan yang memiliki asal-usul ritual, meskipun versi modernnya (roti tanpa isi) adalah adaptasi yang lebih praktis.

Fakta Cepat: Zhuge Liang dan Mantou

  • Tahun Hidup: 181–234 M

  • Peran Utama: Ahli strategi Tiongkok Kuno yang dihormati.

  • Pencapaian Kunci: Penciptaan Mantou (roti kukus berbentuk kepala) sebagai pengganti kepala manusia dalam ritual pengorbanan, meskipun Mantou modern berevolusi dari versi berisinya.

Gambar di atas adalah patung Zhuge Liang, ahli strategi kuno yang dikreditkan oleh legenda Tiongkok sebagai pencipta Mantou pertama.


II. Diferensiasi Geografis: Utara vs. Selatan 

Seiring berjalannya waktu, Mantou dan evolusinya (roti kukus dengan isi, Baozi) mulai berpisah, yang sangat dipengaruhi oleh geografi dan pertanian Tiongkok.

A. Tiongkok Utara: Dominasi Gandum

  • Sebab-Akibat: Tiongkok Utara (wilayah seperti Hebei, Shanxi, dan Manchuria) secara historis adalah wilayah yang ideal untuk menanam gandum daripada padi. Oleh karena itu, makanan pokok di wilayah ini adalah makanan berbahan dasar gandum, seperti mie dan roti.

  • Fungsi Mantou: Mantou menjadi bentuk karbohidrat yang paling efisien, mudah dibuat, mengenyangkan, dan dapat disimpan. Di sini, Mantou disajikan tanpa isi dan berfungsi persis seperti nasi di selatan—sebagai pendamping untuk lauk-pauk (sayuran, daging, dan sup).

B. Tiongkok Selatan: Nasi dan Baozi

Di Tiongkok Selatan, yang subur untuk padi, nasi adalah makanan pokok.

  • Evolusi Baozi: Di Selatan, Mantou yang semula diyakini berawal dari roti kukus berisi (baozi), terus dikembangkan menjadi makanan ringan atau camilan yang berisi daging atau sayuran. Lambat laun, istilah Baozi digunakan untuk roti kukus yang berisi, sementara Mantou hanya merujuk pada roti kukus yang kosong (tanpa isi).


III. Adaptasi dan Dampak Global: Dari Pangan Pokok ke Makanan Jalanan 

Dari pilar pangan di Tiongkok Utara, Mantou telah menemukan tempatnya di meja makan dan jalanan di seluruh dunia.

A. Teknik Pembuatan dan Evolusi

Proses pembuatan Mantou sangat dipengaruhi oleh sejarah fermentasi.

  • Zaman Kuno: Mantou awal mungkin menggunakan adonan yang tidak difermentasi.

  • Abad Pertengahan: Penggunaan ragi (starter adonan) yang lebih baik membuat Mantou menjadi lebih ringan dan mengembang. Kualitas ragi yang baik adalah kunci untuk menciptakan Mantou yang lembut dan sedikit manis.

  • Mantou Modern: Mantou modern seringkali memiliki sedikit rasa manis dan dapat dipanggang, digoreng (Mantou Goreng yang renyah), atau dikukus, menunjukkan fleksibilitasnya.

B. Mantou di Asia Tenggara (Indonesia)

Di Indonesia, Mantou dan kerabatnya (Baozi/Bakpao) dibawa oleh pedagang dan imigran Tiongkok.

  • Pengaruh: Meskipun Bakpao (roti kukus berisi daging atau kacang-kacangan) lebih populer, Mantou tetap dikenal sebagai roti kukus sederhana. Kehadiran Mantou dan Bakpao di Indonesia menunjukkan jejak migrasi dan asimilasi kuliner Tiongkok ke dalam tradisi makanan ringan Nusantara.

Kesimpulan: Makanan Sejarah yang Sederhana

Sejarah Mantou adalah cerminan yang indah dari kejeniusan dan adaptasi kuliner Tiongkok. Berawal dari mitos pengorbanan manusia di sungai, dipisahkan oleh sungai dan gunung, dan akhirnya menjadi lambang pangan pokok di Tiongkok Utara. Mantou adalah pengingat bahwa makanan yang paling sederhana pun dapat memiliki kisah yang paling mendalam. Sebagai pendamping lauk-pauk, ia mewakili stabilitas, dan sebagai makanan yang melintasi benua, ia mewakili persilangan budaya yang terus terjadi.

Rekomendasi Lanjutan:

  • Buku: Buku sejarah kuliner Tiongkok yang membahas perbedaan masakan utara (mianshi - berbasis gandum) dan selatan (mifan - berbasis padi).

  • Tonton: Dokumenter yang berfokus pada migrasi dan pengaruh kuliner Tiongkok di Asia Tenggara (terutama Bakpao).

  • Kunjungi: Restoran Tiongkok Utara untuk mencicipi Mantou otentik sebagai pendamping lauk.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar